Kamis, 24 Mei 2012
Manusia Pertama di Bulan Akhirnya Buka Suara
Adalah Direktur CEO Certified Practicing Accountants (CPA) Australia, Alex Malley yang berhasil membuat Sang Astronot buka mulut selama satu jam, salah satu tentang perjalanannya ke Bulan.
Dalam video wawancara yang diunggah ke situs CPA, Armstrong membuka rahasia, bagaimana dulu ia berpikir, misi Apollo 11 yang berhasil membawanya ke Bulan hanya punya peluang 50 persen untuk mendarat ke permukaan satelit Bumi itu. Juga tentang kekecewaannya pada ambisi Pemerintah AS terkait Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tak seantusias pada tahun 1960-an.
Padahal, "NASA menjadi salah satu investasi publik yang paling berhasil dalam hal memotivasi siswa untuk berbuat yang terbaik untuk meraih apa yang bisa mereka capai," kata Armstrong seperti dimuat Guardian, 23 Mei 2012.
Saat masih kecil, ia mengaku terpesona dengan kata "penerbangan". "Sejak aku di sekolah dasar. Karena itulah aku ingin masuk ke dunia itu," dia menambahkan.
Impian Armstrong untuk terbang tercapai. Ia menjadi pilot pesawat tempur di Perang Korea, dan bekerja menjadi pilot tes saat Presiden John F Kennedy mengeluarkan tantangan pada ilmuwan untuk menerbangkan manusia ke Bulan pada 1962 silam.
Kala itu, AS baru bisa mengirim Alan Sheppard 100 mil di atas permukaan Bumi selama 20 menit. "Kesenjangan antara 20 menit di atas Bumi dengan ambisi ke Bulan adalah sesuatu yang hampir di luar dugaan secara teknis kala itu," kata dia.
Setelah itu, selama bertahun-tahun, NASA mengembangkan misi Apollo. "Sebulan sebelum peluncuran Apollo 11, kami sangat percaya diri mencoba turun ke permukaan Bulan," kata dia. "Saat itu, aku berfikir kami memiliki peluang 90 persen untuk kembali ke Bumi dengan selamat, namun peluang untuk mendarat dalam percobaan perdana hanya 50 persen."
Kala itu, ada banyak hal yang tidak diketahui tentang orbit Bulan dan kondisi permukaannya. "Jika ada sesuatu yang tak kami mengerti saat itu, kami harus membatalkan misi dan pulang ke Bumi tanpa melakukan pendaratan."
Saat Armstrong dan Buzz Aldrin mengendalikan pesawat Eagle ke permukaan Bulan, kemudi otomatis yang dikendalikan komputer berniat menurunkan mereka ke wilayah pinggir kawah besar dengan lereng terjal dengan batu-batu besar. "Bukan tempat yang baik untuk melakukan pendaratan," kata Armstrong.
Lalu, ia mengambil alih kemudi dan menerbangkan pesawat secara manual. "Aku menerbangkannya seperti helikopter ke arah barat, ke wilayah yang lebih halus yang tak banyak batunya, sebelum bahan bakar habis," cerita dia. Bahan bakar yang tersisa hanya bisa digunakan untuk terbang selama 20 detik.
Saat para astronot mendarat ke Bulan, ia menggumamkan kalimatnya yang abadi, "satu langkah kecil bagi seorang manusia, sebuah lompatan besar bagi umat manusia."
Apa yang ia rasakan dan pikirkan saat itu? Armstrong mengatakan, ada banyak yang harus dikerjakan saat itu ketimbang berpikir atau bermeditasi tentang keberadaannya.
Kini bertahun-tahun setelah keberhasilannya meninggalkan tapak kaki di Bulan, Armstrong mengaku sedih dengan posisi NASA yang dikendalikan pemerintah. "Kita ada dalam situasi di mana Kongres dan Gedung Putih saling memaksakan pendapat mereka tentang penjelajahan luar angkasa. NASA bagai shuttlecock," kata dia.
Sementara, Malley yang mewawancara Armstrong tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada astronot itu. "Aku tahu satu hal orang tak tahu tentang Armstrong: ayahnya seorang auditor," kata dia. "Bagi seorang pemimpin atau yang ingin menjadi pemimpin, mendengarkan ucapan Neil Armstrong lebih baik dari mendengarkan kuliah MBA yang ada saat ini," kata dia.(np)
Baca Juga
Mengapa Mereka Memilih Jokowi-Ahok
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.Cegah Klaim dengan 'Google' Budaya Indonesia
VIVAnews - Guna menyelamatkan data budaya Indonesia, para pemerhati budaya menggelorakan 'Gerakan Sejuta Data Budaya'. Gerakan ini mengumpulkan dan mendigitalisasi data budaya Indonesia.
Adalah Bandung Fe Instutute, yang fokus melakukan pendataan budaya untuk ditampilkan dalam laman www.budaya-indonesia.org. Upaya ini dianggap sebuah cara yang memungkinkan untuk menjaga serta melestarikan budaya Indonesia dari klaim maupun pencurian budaya.
"Ini merupakan langkah pertama dan ini cara yang paling sederhana," ungkap Vande Leonardo, Divisi Eksternal Bandung Fe Institute kepada VIVAnews.
Sejak 2008 lalu, laman ini telah mengumpulkan 15 ribu budaya Indonesia dengan 15 kategori, di antaranya tari-tarian, kuliner, motif kain, senjata dan alat perang, mainan tradisional, obat tradisional, adat istiadat, arsitektur, naskah kuno dan prasasti, ornamen, alat musik, cerita rakyat, musik dan lagu, seni pertunjukan dan pakaian tradisional.
Jumlah data yang terdata diperoleh dari partisipasi publik secara sukarela maupun melalui ekpedisi dari pihak Bandung Fe Institute.
"Itu masih sedikit yang kita kumpulkan, harusnya kira-kira budaya kita dapat mencapai 10 juta budaya Indonesia, masih jauh sekali," sebutnya.
Setelah langkah pendataan secara digital ini, langkah selanjutnya yakni mendaftarkan budaya Indonesia yang telah ditampilkan dalam laman ke WIPO (World Intelectual Property Organization). Untuk langkah ini, pihaknya memohon pihak pemerintah untuk membantu dalam proses pendaftaran maupun advokasi budaya ini.
"Namun yang penting datanya dulu, yang penting ada data budaya, terus ditampilkan di laman," katanya.
Jika data budaya sudah ditampilkan, saat terdapat pengklaiman, maka Indonesia akan mempermudah perjuangan pembuktian budaya.
Dengan melakukan pendataan budaya ini, menurutnya dapat menjaga kebudayaan dari kepunahan, membantu dalam hal perlindungan hukum jika suatu saat terdapat pengklaiman.
"Juga membantu dalam riset budaya serta membantu inovasi budaya untuk dimanfaatkan sebagai ekomoni kerakyatan," katanya.
Laman pendatan budaya ini, diharapkan dapat menjadi mesin pencari khusus yang berisi tentang semua budaya Indonesia.
"Ini seperti Google untuk kebudayaan kita," ujarnya. (eh)
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.