VIVAnews - Guna menyelamatkan data budaya Indonesia, para pemerhati budaya menggelorakan 'Gerakan Sejuta Data Budaya'. Gerakan ini mengumpulkan dan mendigitalisasi data budaya Indonesia.
Adalah Bandung Fe Instutute, yang fokus melakukan pendataan budaya untuk ditampilkan dalam laman www.budaya-indonesia.org. Upaya ini dianggap sebuah cara yang memungkinkan untuk menjaga serta melestarikan budaya Indonesia dari klaim maupun pencurian budaya.
"Ini merupakan langkah pertama dan ini cara yang paling sederhana," ungkap Vande Leonardo, Divisi Eksternal Bandung Fe Institute kepada VIVAnews.
Sejak 2008 lalu, laman ini telah mengumpulkan 15 ribu budaya Indonesia dengan 15 kategori, di antaranya tari-tarian, kuliner, motif kain, senjata dan alat perang, mainan tradisional, obat tradisional, adat istiadat, arsitektur, naskah kuno dan prasasti, ornamen, alat musik, cerita rakyat, musik dan lagu, seni pertunjukan dan pakaian tradisional.
Jumlah data yang terdata diperoleh dari partisipasi publik secara sukarela maupun melalui ekpedisi dari pihak Bandung Fe Institute.
"Itu masih sedikit yang kita kumpulkan, harusnya kira-kira budaya kita dapat mencapai 10 juta budaya Indonesia, masih jauh sekali," sebutnya.
Setelah langkah pendataan secara digital ini, langkah selanjutnya yakni mendaftarkan budaya Indonesia yang telah ditampilkan dalam laman ke WIPO (World Intelectual Property Organization). Untuk langkah ini, pihaknya memohon pihak pemerintah untuk membantu dalam proses pendaftaran maupun advokasi budaya ini.
"Namun yang penting datanya dulu, yang penting ada data budaya, terus ditampilkan di laman," katanya.
Jika data budaya sudah ditampilkan, saat terdapat pengklaiman, maka Indonesia akan mempermudah perjuangan pembuktian budaya.
Dengan melakukan pendataan budaya ini, menurutnya dapat menjaga kebudayaan dari kepunahan, membantu dalam hal perlindungan hukum jika suatu saat terdapat pengklaiman.
"Juga membantu dalam riset budaya serta membantu inovasi budaya untuk dimanfaatkan sebagai ekomoni kerakyatan," katanya.
Laman pendatan budaya ini, diharapkan dapat menjadi mesin pencari khusus yang berisi tentang semua budaya Indonesia.
"Ini seperti Google untuk kebudayaan kita," ujarnya. (eh)
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar