Minggu, 20 Mei 2012

Virus Ini Bisa Menghasilkan Energi Listrik

Pembangkit listrik tenaga virus (BBC)

VIVAnews - Para ilmuwan di California, Amerika Serikat telah mengembangkan cara untuk menghasilkan listrik dengan menggunakan virus.

Para peneliti membangun sebuah generator dengan elektroda berukuran perangko pos dan dilengkapi dengan sebuah lapisan film kecil dari virus yang direkayasa secara khusus.

Saat jari mengetuk elektroda, virus tersebut mengubah energi mekanik menjadi listrik. Penelitian oleh tim di California ini  telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Nanotechnology.

Bahan yang dapat mengubah energi mekanik menjadi listrik dalam percobaan ini dikenal sebagai "piezoelektrik".

"Penelitian lebih lanjut diperlukan, tetapi pekerjaan kami adalah langkah pertama yang menjanjikan terhadap pengembangan pembangkit listrik berdaya personal, pengontrol mekanis untuk penggunaan dalam perangkat nano, dan perangkat lain yang berbasis elektronik virus," kata Dr Seung-Wuk Lee di Universitas California, Berkeley seperti dilansir dari BBC.

Virus yang digunakan dalam penelitian ini adalah M13 bakteriofag. Virus ini menyerang bakteri, namun jinak pada manusia. Tim Berkeley menggunakan teknik rekayasa genetika untuk menambahkan empat molekul bermuatan negatif pada salah satu ujung dari pembuka botol berbentuk protein yang melapisi virus.

Virus pembangkit listrik, M13 bakteriofag

Molekul-molekul tambahan ini meningkatkan perbedaan muatan antara ujung protein positif dan negatif, juga meningkatkan tegangan dari virus.

Keuntungan lainnya, virus-virus ini mengatur diri mereka sendiri menjadi sebuah lapisan film teratur yang memungkinkan generator untuk bekerja. Sifat tersebut dikenal sebagai "pertemuan diri sendiri" yang banyak dicari dalam bidang nanoteknologi.

Para ilmuwan menyempurnakan sistem tersebut dengan menumpuk lapisan film yang terdiri dari lapisan tunggal dari virus di atas satu sama lain. Mereka menemukan bahwa tumpukan sekitar 20 lapisan tebal menunjukkan efek piezoelektrik terkuat.

Untuk demonstrasi, para ilmuwan mengambil sebuah film berlapis-lapis dari virus berukuran 1 cm persegi dan menjepitkan virus di antara dua elektroda berlapis emas. Alat ini dihubungkan dengan kabel ke layar kristal cair.

Saat tekanan diaplikasikan pada generator, pembangkit listrik kecil ini mampu memproduksi hingga seperempat dari tegangan baterai pada umumnya. Ini cukup untuk memunculkan angka "1" pada layar.

Meski sangat sederhana, namun Dr Lee mengatakan dia berharap dapat meningkatkan perangkat "percobaan dasar" ini.

Para peneliti mengklaim terobosan mereka dapat mendorong perangkat kecil yang menghasilkan energi listrik dari getaran untuk kegiatan sehari-hari seperti menutup pintu atau naik tangga. (umi)

bulat 16/05/2012 Anda harus Login untuk mengirimkan komentar

View the original article here

Perkenalkan, Saudara Sepupu T-rex

Sepupu T-rex, Tyrannosaurus bataar (dailymail.co.uk)

VIVAnews - Selama jutaan tahun. tulang-belulang ini tersembunyi di keringnya Gurun Gobi, Mongolia. Setelah ditemukan, fosil ini pun hanya mengendap di gudang Dorset. Kini kerangka Tyrannosaurus yang hampir selesain disusun oleh kolektor asal Inggris ini siap dijual. Harga untuk lelang di New York pada Sabtu ini dibuka mulai 750 ribu poundsterling.

Tyrannosaurus bataar seukuran panjang 24 kaki dan tinggi 8 kaki ini merupakan saudara sepupu T-rex yang telah hidup 80 juta tahun lalu. Tulang ini ditemukan di Mongolia dan dimiliki kolektor sejak 2005.

Proses perangkaian tulang-belulang ini menghabiskan biaya yang sangat besar sehingga proyek ini dibantu dengan dana dari pihak Amerika Serikat. Dinosaurus yang baru setengah dibentuk ini dikirim melintasi Samudra Atlantik ke Florida, AS saat selesai dirangkai.

Ini akan menjadi Tyrannosaurus kedua yang dirangkai di dunia.

Direktur sejarah alam di Pelelangan Heritage New York, David Herskowitz, mengatakan, "Spesimen ini ditemukan lebih dari 10 tahun di Gurun Gobi dan dimiliki kolektor fosil dari Dorset."

"Dia memutuskan untuk merangkai dan menyiapkannya dengan biaya 100 ribu pounsterling. Jadi, dia mengontak dealer fosil dari Amerika untuk membantu keuangannya. Dia mengirimkan ke pihak di Florida untuk menyelesaikan perangkaian. Satu-satunya Tyrannosaurus yang telah terjual dilelang yakni T-rex bernama Sue pada 1997 senilai 5 juta poundsterling," imbuhnya.

Menurut Herskowitz, fosil Tyrannosaurus ini akan menjadi salah satu yang paling utuh dan spektakuler. Dinosaurus sebesar dan selangka ini hampir tidak pernah menyentuh pasar dengan kondisi telah dirangkai seperti ini. Kesempatan baik ini dapat dimanfaatkan pihak museum dan institusi.

"Dinosaurus ini sepupu jauh T-rex yang baru diklasifikasilan lagi sebagai Tyrannosaurids. Sangat langka mereka bisa hadir dalam kondisi sebaik ini. Tidak heran dinosaurus seperti ini sering disangka tulang naga ketika ditemukan pada zaman kuno," urai Herskowitz seperti dilansir dari Dailymail.co.uk.

Rangkaian tulang yang baru komplit 75 persen ini akan dilelang di New York Sabtu, 19 Mei 2012.

adi.trioka 17/05/2012 salut untuk ahli paleontologi Amerika. semoga Indonesia bisa menyusul ketinggalannya selama ini. aamiin.Anda harus Login untuk mengirimkan komentar

View the original article here

Belerang Menjawab Teka-Teki Bumi

VIVAnews - Hipotesis Gaia pertama kali disampaikan oleh James Lovelock dan Lynn Margulis pada 1970. Hipotesis ini menyatakan bahwa fisik bumi dan proses biologi sangat berhubungan untuk membentuk suatu sistem yang hidup dan memiliki aturan sendiri. Hipotesis ini menganggap bumi sebagai suatu organisme tunggal.

Sebuah penemuan baru dari Universitas Maryland, Amerika Serikat dapat memberikan kunci untuk menjawab misteri bumi sebagai organisme hidup raksasa sesuai prediksi hipotesis Gaia.

Kuncinya, belerang yang dapat memungkinkan para ilmuwan untuk membuka interaksi tersembunyi antara organisme laut, atmosfer, maupun daratan. Interaksi tersebut mungkin menyediakan bukti yang mendukung teori terkenal ini.

Salah satu prediksi awal hipotesis ini bahwa harus ada suatu senyawa belerang yang dibuat oleh organisme di lautan yang cukup stabil terhadap oksidasi dalam air. Kondisi ini memungkinkan komponen belerang berpindah ke udara.

Entah senyawa belerang itu sendiri, atau produk oksidasi atmosfer, harus dapat  mengembalikan belerang dari laut ke permukaan tanah. Kandidat yang paling mungkin untuk peran ini yakni dimethylsulfide (DMS), yakni cairan yang mudah terbakar dan tidak mudah larut dalam air. Cairan ini mendidih pada suhu 37 derajat celcius.

Publikasi temuan terbaru ini diterbitkan di Universitas Maryland, AS oleh penulis utama, Harry Oduro, bersama dengan ahli geokimia UMD, James Farquhar, dan ahli bilogi kelautan, Kathryn Van Alstyne dari Universitas Western Washington, AS.

Mereka menggunakan alat untuk melacak dan mengukur pergerakan belerang melalui organisme laut, atmosfer, dan daratan. Beberapa cara berguna untuk membuktikan atau menyangkal teori kontroversial Gaia. Studi mereka muncul di jurnal Edisi Online Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Menurut Oduro dan rekan-rekannya, karya ini menyajikan pengukuran langsung pertama dari komposisi isotop dimethylsulfide dan pendahulu dimethylsulfoniopropionate. Pengukuran ini mengungkapkan perbedaan rasio isotop dari kedua senyawa belerang yang diproduksi oleh ganggang laut dan fitoplankton. Isotop merupakan unsur yang atomnya mempunyai jumlah proton yang sama, tetapi berbeda jumlah neutron dalam intinya.

Pengukuran ini terkait dengan metabolisme senyawa oleh organisme laut dan membawa implikasi untuk pelacakan emisi dimethylsulfide dari laut ke atmosfer.

Belerang Sebagai Kunci

Belerang, elemen yang paling berlimpah kesepuluh dalam alam semesta, adalah bagian dari banyak senyawa anorganik dan organik. Siklus belerang melalui tanah, atmosfer dan kehidupan, memainkan peran penting dalam iklim dan dalam kesehatan organisme dan ekosistem.

"Emisi Dimethylsulfide memainkan peran dalam pengaturan iklim melalui transformasi untuk aerosol yang dianggap mempengaruhi keseimbangan radiasi bumi," kata Oduro, yang melakukan penelitian sambil menyelesaikan gelar Ph.D. di bidang geologi & sistem bumi ilmu di Maryland dan sekarang menerima beasiswa postdoctoral di Institut Teknologi Massachusetts. 

Aerosol merupakan partikel padat dalam udara maupun tetesan air.

"Kami menunjukkan bahwa perbedaan dalam komposisi isotop dimethylsulfide mungkin berbeda dalam cara yang akan membantu kita untuk memperbaiki perkiraan emisi dalam atmosfer dan siklus di lautan," kata Oduro .

Seperti banyak unsur kimia lainnya, belerang terdiri dari isotop yang berbeda. Semua isotop dari elemen ditandai dengan memiliki jumlah elektron dan proton yang sama, tetapi jumlah neutron yang berbeda.

Isotop dari elemen ditandai dengan sifat kimia yang identik, tetapi berbeda sifat massal dan nuklir. Akibatnya, para ilmuwan dapat menggunakan kombinasi unik dari unsur isotop radioaktif agar melampaui tanda isotop dengan senyawa yang unsurnya dapat ditelusuri.

"Apa yang Harry lakukan dalam penelitian ini menemukan cara untuk mengisolasi dan mengukur komposisi isotop belerang dari dua senyawa belerang," kata Farquhar, seorang profesor di Universitas Maryland departemen geologi.

"Saya pikir ini sangat penting untuk menggunakan isotop dalam melacak siklus senyawa ini di permukaan lautan seperti perubahan terus menerus dimethylsulfide ke atmosfer. Kemampuan untuk melakukan hal ini dapat membantu kami menjawab pertanyaan iklim yang penting. Akhirnya, akan lebih baik dalam memprediksi perubahan iklim. Bahkan, dapat membantu kami untuk melacak koneksi-koneksi yang lebih baik antara emisi dimethylsulfide dan aerosol sulfat yang akhirnya menguji penghubung dalam hipotesis Gaia, " kata Farquhar. (adi)

Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.Anda harus Login untuk mengirimkan komentar

View the original article here

Pengguna Smartphone Sering Galau

Asyik dengan ponsel pintar (inmagine)

VIVAnews - Para peneliti Universitas Tel Aviv menemukan pengguna smartphone merasa begitu dekat pada perangkat mobile mereka. Saat ditanya perasaan mereka saat jauh dari ponsel, sebagian besar pemilik smartphone memilih gambaran negatif seperti "galau", "tegang", atau "tidak tahu kabar terkini".

Sebaliknya, pengguna telepon biasa jauh lebih mungkin memiliki gambaran positif ketika tanpa ponsel. Mereka mendeskripsikan perasaan bebas atau tenang.

Tahap studi berikutnya akan menganalisis lebih mendalam tentang cara pengguna smartphone menerapkan teknologi smartphone dalam kehidupan sehari-hari. Studi ini meminta pengguna untuk menginstal aplikasi yang dikembangkan para peneliti, Spaces Smart.

Aplikasi ini dirancang untuk melacak keberadaan para peserta selama tiga minggu dan bagaimana mereka menggunakan ponsel mereka di tempat tersebut. Cara ini akan memberikan para peneliti ide yang lebih baik tentang bagaimana pengguna smartphone berinteraksi baik dalam ruang publik dan privat selama hari-hari biasa.

Dr. Hatuka dan Dr. Toch percaya bahwa temuan mereka dapat mengungkapkan petunjuk tentang masa depan ruang publik dan bagaimana ruang publik akan dirancang untuk memenuhi kebutuhan dan melayani mereka.

"Kita sedang memasuki fase baru ruang publik dan privat," ujar Dr. Hatuka seperti dilansir dari Sciencedaily.com.

Hatuka juga menunjukkan bahwa ruang fisik perlu dirancang ulang sebagai arena yang dapat meningkatkan interaksi pribadi.

Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.Anda harus Login untuk mengirimkan komentar

View the original article here