Senin, 14 Mei 2012

Tiga Jenis Turbulensi Pesawat

Sukhoi Super Jet 100 (REUTERS/Benoit Tessier/Files)

VIVAnews--Kecelakaan pesawat Sukhoi SuperJet 100 di Gunung Salak, Rabu 9 Mei 2012 memunculkan banyak spekulasi penyebab pesawat nahas menabrak tebing gunung itu.

Di luar sebab kesalahan teknis, faktor alam juga penting diketahui. Misalkan bagaimana pesawat menghadapi turbulensi di udara.

Federal Aviation Administration, Amerika Serikat mengatakan 58 penumpang pesawat yang terluka setiap tahun disebabkan oleh turbulensi. Bahkan, turbulensi merupakan penyebab pertama cedera pada penumpang dan pramugari dalam kecelakaan fatal. Dua pertiga dari korban mengalami cedera di atas 30.000 kaki.

Berikut ini tiga tipe turbulensi pada pesawat terbang seperti yang dikutip dari laman Popular Mechanics:

1. Turbulensi Selama Badai

Pola cuaca konvektif atau badai menurut pilot dan ahli meteorologi merupakan satu-satunya turbulensi yang dapat dilihat. Arus naik dan turun yang kuat di pusat badai dapat mendorong pesawat ke atas atau turun sebanyak 6.000 kaki.

"Anda tidak bisa melalui mereka. Anda harus menjauh dari badai," ujar Rob Bendall selaku Kepala Pilot maskapai Virgin America.

Turbulensi terburuk terjadi di tengah badai, biasanya antara 12.000 sampai 20.000 kaki. Badai dan turbulensi dapat meningkat setinggi 50.000 kaki, jauh di atas batas tertinggi pesawat yakni antara 30.000 sampai 40.000 kaki. Prakiraan cuaca, radar, dan laporan terkini dari bandara dan pesawat lain dapat membantu pilot mengarahkan pesawat dengan jelas pada cuaca terburuk.

Cuaca buruk bukanlah unsur paling berbahaya dalam penerbangan yang melewati badai. Bencana ini mendatangkan bahaya lain, seperti petir dan hujan batu es yang dapat memecah jendela kokpit atau merusak mesin.

2. Turbulensi di Gunung

Saat angin kencang bertiup mengarah ke pegunungan, udara mengalir dari puncak gunung menghasilkan turbulensi dalam bentuk gelombang saat mencapai sisi lain gunung. Proses ini sama seperti gelombang laut yang memecah pada sisi karang yang terendam.

Turbulensi ini tidak dapat terlihat jelas. Pilot dapat mengantisipasi "gelombang gunung" saat mereka terbang di atas gunung. Para pilot seharusnya sudah paham dengan potensi bahaya ini. Saat kondisi pesawat aman dari gelombang gunung, ada peringatan lain yakni "gelombang awan" lenticular.

3. Turbulensi Tak Terduga

Jenis paling berbahaya dari turbulensi yakni Clear Air Turbulence (CAT). Turbulensi ini tidak terlihat dan datang tanpa diduga. Ancaman ini bisa menimpa kapan saja selama penerbangan.

Salah satu penyebab utama CAT yakni batas antara aliran jet dan gerakan udara yang lambat berdekatan dengan pesawat. Batas tidak terlihat ini memberikan kejutan. Ancaman terberat mengarah pada penumpang yang melepas sabuk pengaman saat pesawat melintasi area ini.

"Jika anda terbang di udara yang terlihat jelas, Anda tidak akan mengindikasi masalah ini sama sekali," ujar Bendall.

Jika pesawat telah melewati daerah depan pesawat Anda, pilot mungkin akan menerima peringatan sebelum turbulensi terjadi.

"Saya tidak berpikir pesawat terbang pernah pecah dalam penerbangan karena turbulensi," ujar Bendall. "Pesawat didesain mengatasi kejadian turbulensi yang parah," dia melanjutkan.

Tanggungjawab terhadap penumpang merupakan kunci untuk keselamatan saat pesawat terkena turbulensi, khususnya turbulensi yang datang tanpa diduga. Itu berarti pasanglah sabuk pengaman Anda, sama seperti himbauan pilot dan pramugari pada kapan saja Anda sedang duduk.

Bendall menyarankan wisatawan yang melancong dengan pesawat untuk tidak hanya melakukan itu saja. "Hal terbaik dilakukan yaitu jangan berkeliaran di lorong pesawat," katanya.

"Lakukan apa yang perlu Anda lakukan. Kemudian, kembali ke tempat duduk dan kenakan sabuk pengaman. Ketika Anda masih terbang di udara dengan 500 mil per jam, sesuatu bisa terjadi," ujarnya.

Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.Anda harus Login untuk mengirimkan komentar

View the original article here

Saat Seks, 12% Ibu Muda Gunakan Smartphone

Wanita utak-atik ponsel (inmagine.com)

VIVAnews - Sebuah studi baru mengungkap bahwa teknologi tidak terpisahkan bagi manusia, termasuk dalam kehidupan privasinya. Sebuah survei bahkan mengungkapkan, seorang ibu tak terpisahkan dari smartphone dalam melakukan aktivitas seksualnya.

Mengutip laman AdWeek, survei yang dilakukan Meredith's Parents Network mengungkapkan, dari 1.000 responden mama muda kelahiran 1977 hingga 1994, terdapat 12 persen yang mengaku tetap menggunakan smartphone ketika berhubungan seks. Tapi tidak dijelaskan apa saja yang mereka lakukan dengan smartphone itu saat berhubungan seks.

Mungkin ini bisa dimaklumi, sebab mama muda merupakan kelompok orang yang mengerti bagaimana memanfaatkan teknologi. Menurut survei Meredith's Parents Network, mama muda tetap terhubung secara digital, di manapun mereka berada.

Survei itu juga mengungkap, sebanyak 81 persen mama muda tak bisa lepas dari smartphone mereka saat berbelanja. Sedangkan 21 persen mama muda mengaku tetap membawa smartphone mereka ke kamar mandi.

Selain soal smartphone, para mama muda ini juga ditanya mengenai perilaku mereka di Facebook. Ternyata, sebagian besar mengaku tidak suka membaca status orang lain yang terlalu update informasi bersifat pribadi.

Mereka juga tidak suka mendapatkan notifikasi permintaan ikut permainan game online. Sebanyak 55 persen mengaku akan menghapus daftar teman jika merasa terganggu status yang "too much information" dan undangan permainan games.

Tampaknya para mama muda ini tak terlalu suka bermain Facebook. Setidaknya, 57 persen mengaku Facebook membuang waktu mereka. Dari 57 persen itu sebanyak 89 persen mengaku lebih memilih menggunakan waktu itu untuk memperoleh "me time".

Hmmm... pertanyaan nakal pun muncul. Kalau bukan untuk jejaring sosial, apa yang 12 persen mama muda itu lakukan dengan smartphone mereka saat melakukan hubungan seks? Semoga Anda tidak terlalu berimajinasi. (asp)

Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.Anda harus Login untuk mengirimkan komentar

View the original article here