Jumat, 18 Mei 2012

RI Tak Persoalkan AS Soal Isu Pencurian Riset

Skandal Temuan Tawon Raksasa Garuda (University of California)

VIVAnews - Kasus pencurian riset peneliti Indonesia oleh peneliti asal Amerika Serikat sempat dibicarakan pada pembahasan kerjasama Joint Committee Meeting (JMC) on Science and Technology antara Kemenristek dengan Pemerintah AS. Namun, pejabat kedua pemerintah tidak mau memperpanjang masalah ini dan kerjasama riset yang telah terjalin tidak akan terganggu.

"Kemarin itu sempat dibahas dalam kerjasama bidang kesehatan. Kita angkat hal itu," kata Amin Soebandrio selaku Deputi Menegristek Bidang Jaringan Iptek Ad Interim, saat ditemui di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa 15 Mei 2012.

Kedua pihak, lanjut Amin, sepakat tidak memperpanjang persoalan tersebut. RI-AS lebih menekankan untuk melanjutkan kerjasama iptek dan mengevaluasi kekurangan maupun hambatan kerjasama iptek ke depan.

"Itu bukan masalah sepanjang dibicarakan dari awal. Jadi, ini lebih kepada kesepakatan antar peneliti. Siapa yang didahulukan namanya," tambah Amin.

Menurutnya, fokus soal pencurian riset lebih kepada publikasi atas hasil penelitian. Amin mengatakan bahwa lazimnya, peneliti yang telah berkontribusi lebih dalam pada sebuah riset, ditetapkan sebagai penulis utama (first author).

Amin mengatakan kerjasama antar dua negara ini tidak terganggu dengan kasus tersebut. Belum ada pembicaraan yang memperkuat kesepakatan publikasi riset yang melibatkan peneliti asing.

Kemenristek menjalin kerjasama dengan pemerintah Amerika Serikat dalam bidang kesehatan, pertanian, dan kelautan. Pelaksanaan JCM ini terkait dengan perjanjian kerjasama Indonesia-Amerika Serikat dalam bidang iptek yang ditandatangani pada 2010 lalu.

Kasus pencurian riset RI ini berawal ketika hasil penelitian bersama LIPI dan AS dimuat pada jurnal Zookeys. Temuan tawon raksasa Megalara Garuda dipublikasikan oleh Lynn S. Kimsey dari University of California, Davis, Amerika Serikat tanpa menyebut peneliti LIPI, Rosichon Ubaidillah. (ren)

Payah bangsa ku ini pantes aja pada kabur ke luar negeri, bagi AS ini masalah besar bagi INA "ga papa" Fu*k ga guna berkarya di INA tidak dihargai baik ilmuan ato engineer lebih menghargai para P*S berseragam yang kerjanya OL mulu dan makan gajih butaSungguh disayangkan sikap pemerintah, dlm hal ini menristek tdk ada perhatian melindungi hasil jerih payah para peneliti bangsa sendiri. Tidak heran mereka pada kabur atau dibajak negara lain yg lebih menghargai hasil karya mereka. b3t4 16/05/2012 ga heran pemerintah Indonesia masih takut am AS =="Anda harus Login untuk mengirimkan komentar

View the original article here

Tidak ada komentar:

Posting Komentar